Pages

6.02.2010

Hukum Onani


Apa hukum onani/masturbasi bagi pria dan wanita?

Dijawab oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah As Sarbini Al- Makassari
Permasalahan onani/masturbasi (istimna’) adalah permasalahan yang telah dibahas oleh para ulama. Onani adalah upaya mengeluarkan mani dengan menggunakan tangan atau yang lainnya. Hukum permasalahan ini ada rinciannya sebagai berikut:
1. Onani yang dilakukan dengan bantuan tangan/anggota tubuh lainnya dari istri atau budak wanita yang dimiliki. Jenis ini hukumnya halal, karena termasuk dalam keumuman bersenang-senang dengan istri atau budak wanita yang dihalalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.1 Demikian pula hukumnya bagi wanita dengan tangan suami atau tuannya (jika ia berstatus sebagai budak, red.). Karena tidak ada perbedaan hukum antara laki-laki dan perempuan hingga tegak dalil yang membedakannya. Wallahu a’lam.
2. Onani yang dilakukan dengan tangan sendiri atau semacamnya. Jenis ini hukumnya haram bagi pria maupun wanita, serta merupakan perbuatan hina yang bertentangan dengan kemuliaan dan keutamaan. Pendapat ini adalah madzhab jumhur (mayoritas ulama), Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu, dan pendapat terkuat dalam madzhab Al-Imam Ahmad rahimahullahu. Pendapat ini yang difatwakan oleh Al-Lajnah Ad-Da’imah (yang diketuai oleh Asy-Syaikh Ibnu Baz), Al-Albani, Al-’Utsaimin, serta Muqbil Al-Wadi’i rahimahumullah. Dalilnya adalah keumuman firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ. إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ. فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluan-kemaluan mereka (dari hal-hal yang haram), kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak wanita yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Barangsiapa mencari kenikmatan selain itu, maka merekalah orang-orang yang melampaui batas.” (Al-Mu’minun: 5-7, juga dalam surat Al-Ma’arij: 29-31)
Perbuatan onani termasuk dalam keumuman mencari kenikmatan syahwat yang sifatnya melanggar batasan syariat yang dihalalkan, yaitu di luar kenikmatan suami-istri atau tuan dan budak wanitanya.
Sebagian ulama termasuk Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu berdalilkan dengan hadits ‘Abdillah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ اْلبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian yang telah mampu menikah, maka menikahlah, karena pernikahan membuat pandangan dan kemaluan lebih terjaga. Barangsiapa belum mampu menikah, hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa merupakan obat yang akan meredakan syahwatnya.” (Muttafaq ‘alaih)
Al-’Utsaimin rahimahullahu berkata: “Sisi pendalilan dari hadits ini adalah perintah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi yang tidak mampu menikah untuk berpuasa. Sebab, seandainya onani merupakan adat (perilaku) yang diperbolehkan tentulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan membimbing yang tidak mampu menikah untuk melakukan onani, karena onani lebih ringan dan mudah untuk dilakukan ketimbang puasa.”
Apalagi onani sendiri akan menimbulkan mudharat yang merusak kesehatan pelakunya serta melemahkan kemampuan berhubungan suami-istri jika sudah berkeluarga, wallahul musta’an.2
Adapun hadits-hadits yang diriwayatkan dalam hal ini adalah hadits-hadits yang dha’if (lemah). Kelemahan hadits-hadits itu telah diterangkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu dalam At-Talkhish Al-Habir (no. 1666) dan Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil (no. 2401) serta As-Silsilah Adh-Dha’ifah (no. 319). Di antaranya hadits ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma:
سَبْعَةٌ لاَ يَنْظُرُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيْهِمْ وَيَقُوْلُ: ادْخُلُوْا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِيْنَ: ... وَالنَّاكِحُ يَدَهُ .... الْحَدِيْثَ
“Ada tujuh golongan yang Allah tidak akan memandang kepada mereka pada hari kiamat, tidak akan membersihkan mereka (dari dosa-dosa) dan berkata kepada mereka: ‘Masuklah kalian ke dalam neraka bersama orang-orang yang masuk ke dalamnya!’ (di antaranya): … dan orang yang menikahi tangannya (melakukan onani/masturbasi) ….dst.” (HR. Ibnu Bisyran dalam Al-Amali, dalam sanadnya ada Abdullah bin Lahi’ah dan Abdurrahman bin Ziyad bin An’um Al-Ifriqi, keduanya dha’if [lemah] hafalannya)
Namun apakah diperbolehkan pada kondisi darurat, yaitu pada suatu kondisi di mana ia khawatir terhadap dirinya untuk terjerumus dalam perzinaan atau khawatir jatuh sakit jika air maninya tidak dikeluarkan? Ada khilaf pendapat dalam memandang masalah ini.
Jumhur ulama mengharamkan onani secara mutlak dan tidak memberi toleransi untuk melakukannya dengan alasan apapun. Karena seseorang wajib bersabar dari sesuatu yang haram. Apalagi ada solusi yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meredakan/meredam syahwat seseorang yang belum mampu menikah, yaitu berpuasa sebagaimana hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu di atas.
Sedangkan sekelompok sahabat, tabi’in, dan ulama termasuk Al-Imam Ahmad rahimahullahu memberi toleransi untuk melakukannya pada kondisi tersebut yang dianggap sebagai kondisi darurat.3 Namun nampaknya pendapat ini harus diberi persyaratan seperti kata Al-Albani rahimahullahu dalam Tamamul Minnah (hal. 420-421): “Kami tidak mengatakan bolehnya onani bagi orang yang khawatir terjerumus dalam perzinaan, kecuali jika dia telah menempuh pengobatan Nabawi (yang diperintahkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam), yaitu sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum pemuda dalam hadits yang sudah dikenal yang memerintahkan mereka untuk menikah dan beliau bersabda:
فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Maka barangsiapa belum mampu menikah hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa merupakan obat yang akan meredakan syahwatnya.”
Oleh karena itu, kami mengingkari dengan keras orang-orang yang memfatwakan kepada pemuda yang khawatir terjerumus dalam perzinaan untuk melakukan onani, tanpa memerintahkan kepada mereka untuk berpuasa.”
Dengan demikian, jelaslah kekeliruan pendapat Ibnu Hazm rahimahullahu dalam Al-Muhalla (no. 2303) dan sebagian fuqaha Hanabilah yang sekadar memakruhkan onani dengan alasan tidak ada dalil yang mengharamkannya, padahal bertentangan dengan kemuliaan akhlak dan keutamaan.
Yang lebih memprihatinkan adalah yang sampai pada tahap menekuninya sebagai adat/kebiasaan, untuk bernikmat-nikmat atau berfantasi/mengkhayalkan nikmatnya menggauli wanita. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata dalam Majmu’ Al-Fatawa (10/574): “Adapun melakukan onani untuk bernikmat-nikmat dengannya, menekuninya sebagai adat, atau untuk mengingat-ngingat (nikmatnya menggauli seorang wanita) dengan cara mengkhayalkan seorang wanita yang sedang digaulinya saat melakukan onani, maka yang seperti ini seluruhnya haram. Al-Imam Ahmad rahimahullahu mengharamkannya, demikian pula yang selain beliau.” Wallahu a’lam.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membimbing para pemuda dan pemudi umat ini untuk menjaga diri mereka dari hal-hal yang haram dan hina serta merusak akhlak dan kemuliaan mereka. Amin.
Washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Apakah pelaku onani/masturbasi mendapat dosa seperti orang yang berzina?
Adi Wicaksono, lewat email
Penetapan kadar dan sifat dosa yang didapatkan oleh seorang pelaku maksiat, apakah sifatnya dosa besar atau dosa kecil harus berdasarkan dalil syar’i. Perbuatan zina merupakan dosa besar yang pelakunya terkena hukum hadd. Nash-nash tentang hal itu sangat jelas dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Adapun masturbasi/onani dengan tangan sendiri atau semacamnya (bukan dengan bantuan tangan/anggota tubuh dari istri atau budak wanita yang dimiliki), terdapat silang pendapat di kalangan ulama. Yang benar adalah pendapat yang menyatakan haram. Hal ini berdasarkan keumuman ayat 5-7 dari surat Al-Mu’minun dan ayat 29-31 dari surat Al-Ma’arij. Onani termasuk dalam keumuman mencari kenikmatan syahwat yang haram, karena melampaui batas syariat yang dihalalkan, yaitu kenikmatan syahwat antara suami istri atau tuan dengan budak wanitanya. Adapun hadits-hadits yang diriwayatkan dalam hal ini yang menunjukkan bahwa onani adalah dosa besar merupakan hadits-hadits yang dha’if (lemah) dan tidak bisa dijadikan hujjah. Di antaranya:
سَبْعَةٌ لاَ يَنْظُرُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيْهِمْ وَيَقُوْلُ: ادْخُلُوْا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِيْنَ: ... وَالنَّاكِحُ يَدَهُ .... الْحَدِيْثَ
“Ada tujuh golongan yang Allah tidak akan memandang kepada mereka pada hari kiamat, tidak akan membersihkan mereka (dari dosa-dosa) dan berkata kepada mereka: ‘Masuklah kalian ke dalam neraka bersama orang-orang yang masuk ke dalamnya!’: … dan orang yang menikahi tangannya (melakukan onani/masturbasi) ….dst.”4
Sifat onani yang paling parah dan tidak ada seorang pun yang menghalalkannya adalah seperti kata Syaikhul Islam dalam Majmu’ Al-Fatawa (10/574): “Adapun melakukan onani untuk bernikmat-nikmat dengannya, menekuninya sebagai adat, atau untuk mengingat-ngingat/mengkhayalkan (nikmatnya menggauli seorang wanita) dengan cara mengkhayalkan seorang wanita yang sedang digaulinya saat melakukan onani, maka yang seperti ini seluruhnya haram. Al-Imam Ahmad rahimahullahu mengharamkannya, demikian pula selain beliau. Bahkan sebagian ulama mengharuskan hukum hadd bagi pelakunya.”
Penetapan hukum hadd dalam hal ini semata-mata ijtihad sebagian ulama mengqiyaskannya dengan zina. Namun tentu saja berbeda antara onani dengan zina sehingga tidak bisa disamakan. Karena zina adalah memasukkan kepala dzakar ke dalam farji wanita yang tidak halal baginya (selain istri dan budak wanita yang dimiliki). Oleh karena itu, yang benar dalam hal ini adalah pelakunya hanya sebatas diberi ta’zir (hukuman) yang setimpal sebagai pelajaran dan peringatan baginya agar berhenti dari perbuatan maksiat tersebut. Pendapat ini adalah madzhab Hanabilah, dibenarkan oleh Al-Imam Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu dalam Asy-Syarhul Mumti’ Kitab Al-Hudud Bab At-Ta’zir dan difatwakan oleh Al-Lajnah Ad-Da’imah yang diketuai oleh Al-Imam Ibnu Baz rahimahullahu dalam Fatawa Al-Lajnah (10/259).
Adapun bentuk hukumannya kembali kepada ijtihad hakim, apakah dicambuk (tidak lebih dari sepuluh kali), didenda, dihajr (diboikot), didamprat dengan celaan, atau lainnya, yang dipandang oleh pihak hakim dapat membuatnya jera dari maksiat itu dan bertaubat.5 Wallahu a’lam.
Kesimpulannya, masturbasi tidak bisa disetarakan dengan zina, karena tidak ada dalil yang menunjukkan hal itu. Namun onani adalah maksiat yang wajib untuk dijauhi. Barangsiapa telah melakukannya hendaklah menjaga aibnya sebagai rahasia pribadinya dan hendaklah bertaubat serta memohon ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apabila urusannya terangkat ke mahkamah pengadilan, maka pihak hakim berwenang untuk memberi ta’zir (hukuman) yang setimpal, sebagai pelajaran dan peringatan baginya agar jera dari perbuatan hina tersebut. Wallahu a’lam.

1 Pertama kali kami mendengar faedah ini dari guru besar kami, Al-Walid Al-Imam Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullahu dalam majelis beliau. Silakan lihat pula Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah (10/259), Al-Iqna’ pada Kitab An-Nikah Bab ‘Isyratin Nisa’. Hal ini merupakan ijma’ (kesepakatan) ulama sebagaimana dinukilkan oleh Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullahu dalam kitabnya yang berjudul Bulughul Muna fi Hukmil Istimna’, walhamdulillah –pen.
2 Lihat tafsir surat Al-Mu’minun dalam Tafsir Ath-Thabari, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al-Baghawi, Majmu’ Al-Fatawa (10/574, 34/229), Fatawa Al-Lajnah (10/259), Tamamul Minnah (hal. 420), Majmu’ Ar-Rasa’il (19/234, 235-236), Asy-Syarhul Mumti’ Kitab Al-Hudud Bab At-Ta’zir –pen.
3 Lihat Majmu’ Al-Fatawa (10/574, 34/229-230) –pen.
4 Lihat penjelasan hadits ini dalam Problema Anda: Hukum Onani/Masturbasi.
5 Lihat Asy-Syarhul Mumti’ Kitab Al-Hudud Bab At-Ta’zir –pen.

Tawadhu'


Sikap merendah tanpa menghinakan diri- merupakan sifat yang sangat terpuji di hadapan Allah dan seluruh makhluk-Nya. Sudahka h kita memilikinya?

Merendahkan diri (tawadhu’) adalah sifat yang sangat terpuji di hadapan Allah dan juga di hadapan seluruh makhluk-Nya. Setiap orang mencintai sifat ini sebagaimana Allah dan Rasul-Nya mencintainya. Sifat terpuji ini mencakup dan mengandung banyak sifat terpuji lainnya.

Tawadhu’ adalah ketundukan kepada kebenaran dan menerimanya dari siapapun datangnya baik ketika suka atau dalam keadaan marah. Artinya, janganlah kamu memandang dirimu berada di atas semua orang. Atau engkau menganggap semua orang membutuhkan dirimu.

Lawan dari sifat tawadhu’ adalah takabbur (sombong), sifat yang sangat dibenci Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah mendefinisikan sombong dengan sabdanya:
“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan menganggap remeh orang lain.” (Shahih, HR. Muslim no. 91 dari hadits Abdullah bin Mas’ud z)

Jika anda mengangkat kepala di hadapan kebenaran baik dalam rangka menolaknya, atau mengingkarinya berarti anda belum tawadhu’ dan anda memiliki benih sifat sombong.

Tahukah anda apa yang diperbuat Allah subhanahu wa ta’ala terhadap Iblis yang terkutuk? Dan apa yang diperbuat Allah kepada Fir’aun dan tentara-tentaranya? Kepada Qarun dengan semua anak buah dan hartanya? Dan kepada seluruh penentang para Rasul Allah? Mereka semua dibinasakan Allah subhanahu wa ta’ala karena tidak memiliki sikap tawadhu’ dan sebaliknya justru menyombongkan dirinya.

Tawadhu’ di Hadapan Kebenaran

Menerima dan tunduk di hadapan kebenaran sebagai perwujudan tawadhu’ adalah sifat terpuji yang akan mengangkat derajat seseorang bahkan mengangkat derajat suatu kaum dan akan menyelamatkan mereka di dunia dan akhirat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi dan kesudahan yang baik bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Qashash: 83)

Fudhail bin Iyadh t (seorang ulama generasi tabiin) ditanya tentang tawadhu’, beliau menjawab: “Ketundukan kepada kebenaran dan memasrahkan diri kepadanya serta menerima dari siapapun yang mengucapkannya.” (Madarijus Salikin, 2/329). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Tidak akan berkurang harta yang dishadaqahkan dan Allah tidak akan menambah bagi seorang hamba yang pemaaf melainkan kemuliaan dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah melainkan akan Allah angkat derajatnya.” (Shahih, HR. Muslim no. 556 dari shahabat Abu Hurairah z)

Ibnul Qayyim t dalam kitab Madarijus Salikin (2/333) berkata: “Barangsiapa yang angkuh untuk tunduk kepada kebenaran walaupun datang dari anak kecil atau orang yang dimarahinya atau yang dimusuhinya maka kesombongan orang tersebut hanyalah kesombongan kepada Allah karena Allah adalah Al-Haq, ucapannya haq, agamanya haq. Al-Haq datangnya dari Allah dan kepada-Nya akan kembali. Barangsiapa menyombongkan diri untuk menerima kebenaran berarti dia menolak segala yang datang dari Allah dan menyombongkan diri di hadapan-Nya.”

Perintah untuk Tawadhu’

Dalam pembahasan masalah akhlak, kita selalu terkait dan bersandar kepada firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasul teladan yang baik.” (Al-Ahzab: 21)

Dalam hal ini banyak ayat yang memerintahkan kepada beliau untuk tawadhu’, tentu juga perintah tersebut untuk umatnya dalam rangka meneladani beliau. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu yaitu orang-orang yang beriman.” (Asy-Syu’ara: 215).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian merendahkan diri sehingga seseorang tidak menyombongkan diri atas yang lain dan tidak berbuat zhalim atas yang lain.” (Shahih, HR Muslim no. 2588).

Demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kepada kita bahwa tawadhu’ itu sebagai sebab tersebarnya persatuan dan persamaan derajat, keadilan dan kebaikan di tengah-tengah manusia sebagaimana sifat sombong akan melahirkan keangkuhan yang mengakibatkan memperlakukan orang lain dengan kesombongan.

Macam-macam Tawadhu’

Telah dibahas oleh para ulama sifat tawadhu’ ini dalam karya-karya mereka, baik dalam bentuk penggabungan dengan pembahasan yang lain atau menyendirikan pembahasannya. Di antara mereka ada yang membagi tawadhu’ menjadi dua:
1. Tawadhu’ yang terpuji yaitu ke-tawadhu’-an seseorang kepada Allah dan tidak mengangkat diri di hadapan hamba-hamba Allah.
2. Tawadhu’ yang dibenci yaitu tawadhu’-nya seseorang kepada pemilik dunia karena menginginkan dunia yang ada di sisinya. (Bahjatun Nazhirin, 1/657).

Wallahu a’lam. 

5.24.2010

Sufi dan Ganja


Asmat, baru saja bertobat. Ia mulai menyadari masa lalunya dengan narkoba menyesatkan dirinya. Ketika mulai masuk dunia Sufi, Asmat justru kembali ke narkoba lagi.

“Kamu kok begitu sih Mat? ”tegur kawannya, Darwis.
“Saya lakukan eksperimen, siapa tahu saya berdzikir sambil mengganja, tambah uueeenak, melayang dzikirku…”
“Kamu memang sudah edan makan semir Mat…”
“Coba Wis, kamu coba. Nganja sambil dzikir pasti enak tenan…”
Darwis nggak habis pikir pandangan Asmat yang kontroversial ini.
“Kamu sudah ghurur Mat. Kamu terkena tipudaya…?”
“Bagaimana kamu bilang begitu. Kan banyak orang berdzikir yang dicari nikmatnya dzikir, bahkan kalau perlu bisa nangis-nangis segala…”
“Lhahadala…Itu to yang membuatmu begitu…”
“Jelaskan?”

“Dzikir itu tujuannya agar bertemu Allah, Musyahadah kepada Allah, hadir di depan Allah. Bukan mencari nikmatnya dzikir atau…. Bisa-bisa kamu melayang nggak karuan campur syetan nanti…”
“Campur syetan bagaimana Wis?”
“Kamu nge-ganja, pasti kamu mengkhayal. Sedangkan hatimu tidak ingin sama sekali bersenang-senang dengan kenikmatan khalamu, hatimu hanya sedang mengingat Allah, bagaimana bisa nyampe pada Allah, kalau yang kau unggulkan, kau senangi selera nafsumu?”
Asmat bengong lagi….

“Sudah begini saja, teruskan nge-ganjamu. Apa kamu nanti bisa bertemu Allah atau bertemu syetan…Coba! Nanti kalau kamu dicabut nyawamu saat kamu nge-ganja sambil dzikir, kamu husnul khotimah apa su’ul khotimah, saya nggak mau ikut-ikut akh…”
Asmat lalu menyedot sekuat-kuatnya ganja yang di tangannya. Semakin lama ia mengkhayal semakin bergentar jantungnya, semakin gelisah dan gundah jiwanya. Diam-diam ia bisa membedakan mana hasrat nafsu dibalik ibadah, hasrat nafsu dengan kemanjaan dan khayalan, dan hasrat hati yang sesungguhnya.
“Wiisss…! Darwiiiiiiiisss! Kamu dimana Wis!...”
Asmat berteriak sekencang-kencangnya.
“Aku sejak tadi disini Mat. Di dekatmu….”
Asmat terkejut dan mulai menangis sesenggukan.

Dunia itu Seperti Pasar


Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany
Kaum sufi hanya beramal kepadaNya dan besertaNya, lalu Allah memperlihatkan banyak keajaibanNya di dunia dan di akhirat. Mereka diperlihatkan KelembutanNya dan limpahan ruhani pada mereka.

Dunia ini adalah pasar, sesaat kemudian sudah sepi tak satu pun menghuni. Ketika malam tiba, pasar itu sudah tutup, seluruh pembeli dan penjualnya pergi. Karena itu janganlah anda berjual beli di pasar dunia itu kecuali yang bermanfaat bagimu esok di akhirat, Karena pengawas akan tahu.

Mentauhidkan Allah Azza wa-Jalla adalah berlaku ikhlas dalam beramal kepadaNya. Tapi yang ada disana malah banyak munafiknya. Sedikit sekali yang ikhlas diantara kalian. Anak-anak, jadilah anda orang berakal cerdas, dan jangan terburu-buru. Karena segala yang ada di tangan anda akan lepas, jika anda terburu-buru.
Jangan datang di waktu maghrib dan waktu subuh, apakah kamu tidak lagi punya kesabaran, anda sibuk hingga waktu maghrib dan anda dapatkan apa yang anda mau?

Berakal sehatlah kalian, beradablah kepada Allah Azza wa-Jalla dan makhlukNya. Jangan sampai anda mendzalimi mereka dan anda mencari sesuatu yang bukan milik anda dari mereka. Tak ada konfirmasi sampai adanya rekomendasi dari Sang Wakil. Pada pada saat itulah anda bisa melihat pemberian sebelum rekomendasi, sedikit pun tidak memberikan padamu dan mereka pun tidak memberikan padamu, tidak segentong, tidak selautan tidak pula setetes, kecuali atas izin Allah azza wa-Jalla. Sedangkan rekomendasiNya dan IlhamNya pada hati mereka.

Jadilah anda orang yang berakal sehat. Itulah akal sehat. Karena itu kokohlah di posisi anda di hadapan Allah Azza wa-Jalla. Karena rizki itu sudah dibagi dari SisiNya dan di TanganNya.

Celaka anda! Dengan muka seperti apa anda nanti bertemu denganNya? Sedangkan anda kontra kepadaNya di dunia, berpaling dariNya menuju makhlukNya, musyrik kepadaNya sembari anda gantungkan kebutuhanmu kepada mereka, kau pasrahkan nasibmu pada mereka.

Hajat kebutuhan yang dipasrahkan pada makhluk lain itu lebih banyak melimpahkan siksaan, karena mereka tidak pernah dimintai melainkan akan mengeluarkan milik bersama dosa-dosanya. Dan hanya sedikit dari mereka yang melakukan tanpa terpaksa dengan hak yang ada pada mereka. Jika anda meminta, dan anda tersiksa, sesungguhnya anda sedang terhalang datang pemberian itu sendiri.

Anak-anak sekalian….menurutku, manakala anda dalam kondisi terpepet, jangan minta pada siapa pun dan jangan punya hasrat apa pun dimana orang dan keinginan itu tidak dikenal dan anda tidak mengetahui asal usulnya. Jika anda mampu untuk memberi, dan anda tidak mencari, meminta, maka lakukan. Ketika anda berbakti, dan anda tidak mencari supaya diri anda berbakti pada yang lain, maka lakukanlah pekerjaan itu.

Kaum sufi hanya beramal kepadaNya dan besertaNya, lalu Allah memperlihatkan banyak keajaibanNya di dunia dan di akhirat. Mereka diperlihatkan KelembutanNya dan limpahan ruhani pada mereka.
Anak-anak sekalian… Jika anda tidak memegang islam, bagaimana anda memegang iman? Jika tidak ada iman bagaimana anda yaqin. Jika tak ada yaqin, bagaimana anda meraih ma’rifat padaNya dan pengetahuan padaNya.

Semua itu merupakan klasifikasi. Bila Islammu benar, maka kepasrahan total mu benar. Jadilah anda ini Islam menuju Allah Azza wa-Jalla dalam seluruh perilaku dengan tetap menjaga batas syariat dan siplin bersamaNya. Serahkan dirimu dan yang lain pada Allah Azza wa-Jalla. Berbuat baiklah dalam adabmu bersamaNya dan makhlukNya. Jangan mendzalimi dirimu dan yang lain, karena pedzaliman itu berarti kegelapan di dunia dan akhirat. Dzalim itu gelapnya hati, menghitamkan wajah dan lembaran. Karena itu janganlah berbuat dzalim dan jangan saling menolong pada orang dzalim. Nabi saw bersabda:
“Di hari kiamat ada suara yang menyeru, ‘Dimanakah kedzaliman? Dimanakah para pendukung kedzaliman? Manakah orang yang melihat mereka walau sebentar? Manakah yang pernah bertemu mereka walau sekejap? Kumpulkan mereka dan jadikan mereka dalam peti dari api neraka!” Hindari makhluk, dan berjuanglah agar kalian tidak menjadi orang yang di dzalimi maupun yang dzalim.

Jika terpaksa anda menjadi orang yang terdzalimi, maka jangan sampai menjadi orang yang dzalim, jangan menjadi pula yang dipaksa dan pemaksa. Allah memberikan pertolongan kepada yang di dzalimi, apalagi jika mendapatkan orang yang menolongnya.
Nabi saw bersabda:
“Manakala seorang di dzalimi dan tidak mendapatkan orang yang menolongnya kecuali hanya Allah azza wa-Jalla, maka Allah Ta’ala berfirman, “Aku bakal menolongmu, walau sesaat setelah itu.”
Sabar itu penyebab pertolongan, keluhuran dan kemuliaan.

Ya Allah kami memohon padaMu kesabaran bersamaMu, dan kami mohon ketaqwaan, kecukupan, solusi dari beban dan sibuk bersamaMu, mohon hijab dihilangkan antara di kami dan DiriMu….
Buanglah dinding antara dirimu dan DiriNya, karena keterpakuanmu pada jembatan dinding itu merupakan ketololan. Karena tak ada raja, sultan, yang mencukupi dan yang mulia kecuali yang hanya menuju kepada Allah Azza wa-Jalla.

Hai orang munafiq, sampai kapan anda pamer dan bermunafiq ria? Buanglah milikmu yang datang dari orang yang memunafikkan dirimu? Celaka kamu! Apa kamu tidak malu bertemu denganNya kelak?
Dalam waktu dekat anda beramal untukNya tetapi batinmu unjtuk selain DiriNya. Anda mengkhianatiNya, karena anda memanfaatkan kebesaranNya untuk dengan memanipulasi ilmuNya untuk nafsumu.
Karena itu kembalilah dirimu, temui perkara urgentmu dan baguskan niatmu kepadaNya. Berjuanglah untuk tidak makan, melangkah dan beramal secara total kecuali dengan niat yang saleh (Lillah), maka anda akan menjadi baik. Setiap amal yang anda lakukan hanya untukNya bukan untuk yang lain.

Maka, pada saat itulah bebanmu sirna, maka seluruh niat ini jadi watak bagi hamba manakala ubudiyahnya benar-benar bagi TuhanNya, tidak untuk kebutuhan sesuatu, karena Allah telah melimpahkan karuniaNya padanya. Bila Allah telah melimpahkannya maka Allah mencukupinya dan menutupinya dari makhluk hingga ia tidak butuh pada mereka.
Anda memang akan terus lelah sepanjang anda menjadi penempuh, penuju dan pelaku. Jika sudah sampai dan telah menyelesaikan seluruh perjalananmu maka anda berada di Rumah Dekat Tuhanmu Azza wa-Jalla, maka seluruh beban sirna dan yang ada hanyalah kegembiraan qalbu.

Semakin hari semakin tambah sampai anda meraih nuansa di sisiNya. Semula kecil, lalu membesar, dan jika besar hatimu akan dipenuhi kebersamaan dengan Allah azza wa-Jalla. , hingga di hatimu tak ada jalan dan plaza selain Allah.

Jika anda ingin sampai di situ, maka jalan perintahNya dan jauhi laranganNya, pasrah dalam baik dan buruk kepadaNya, kaya dan miskin, mulia dan hina hingga meraih tujuan di dunia dan di akhirat.
Anda berbuat untukNya, jangan pula berkeinginan mencari pahala, dan tujuanmu hanya mencari ridloNya, dekat denganNya. Pahala itu adalah ridloNya padamu, kedekatanmu padaNya di dunia dan di akhirat. Di dunia bagi hatimu dan di akhirat bagi keinginanmu.
Berbuatlah dan jangan kontra denganNya sedikit pun, jangan pula memandang amal perbuatanmu, tetapi gerak gerikmu karena amal itu sendiri dan yang engkau amali. Bila telah sempurna maka di hatimu ada mata yang memandang, makna menjadi rupa, ghaib menjadi nyata, berita menjadi fakta.

Seorang hamba manakala saleh bersama Allah azza wa-Jalla, maka Allah bersamanya dalam seluruh tingkah lakunya, dimana Allahlah yang merubah, mentransformasi, mengganti dan memindah dari satu kondisi derajat ruhani ke derajat lebih tinggi lagi. Lalu segalanya menjadi makna, segalanya menjadi iman dan yaqin, ma’rifat dan taqarrub serta penyaksian hati. Jadilah siang tanpa malam, cerah tanpa gelap, bening tanpa keruh, hati tanpa nafsu, rahasia diri tanpa hati, fana’ tanpa wujud, sirna tanpa hadir, lalu dia ghaib dari dari mereka dan dari dirinya.
Semua ini mendasar pada rasa bahagia total bersama Allah Azza-wa-Jalla. Ungkapan dimana antara dirimu dan DiriNya telah menjadi sempurna dalam kemesraan ini.

Melangkahlah dari makhluk, selangkah tanpa anda merasa dapat ancaman dan manfaat dari mereka, maka sebenarnya anda telah melampaui mereka. Melangkahlah dengan langkah nafsu dengan langkah dimana anda tidak berserasi dengannya dan anda memusuhinya, demi Ridlo dari Allah Azza waJalla, maka anda telah melewatinya.

Makhluk dan nafsu itu adalah dua samudera, dua neraka, dua lembah yang yang menghancurkan. Bertekadlah dan lampaui kehancuran itu dan anda bisa meraihnya.

Makhluk dan nafsu adalah penyakit, lalu langkahmu adalah obat. Tinggalkan obat dan penyakitnya, karena semuanya adalah piranti di sisiNya yang tak seorang pun memilikinya kecuali Allah Swt.
Jika anda sabar dalam kesatuan maka kemesraan dengan Yang maha Satu ada. Jika anda sabar dengan kefakiran, maka kekayaan tiba padamu. Tinggalkan dunia, carilah akhirat. Lalu carilah kedekatan dari Tuhan, tinggalkan makhluk menuju Sang Khaliq.

Makhluk dan Khaliq tidak pernah berkumpul. Dunia dan akhirat dalam hati, tidak pernah berpadu. Tidak pernah terbayang, tak pernah benar dan tak pernah datang sedikit pun, baik pada makhluk maupun Khaliq, baik dunia maupun akhirat. Namun kadang terproyeksi bahwa makhluk itu dalam lahiriyahmu dan Khaliq dalam batinmu, dunia ada di tanganmu, akhirat ada di hatimu. Namun jika harus berpadu dalam hati, maka tidak akan terjadi sama sekali.

Lihatlah dirimu dan pilihlah. Jika anda ingin dunia, keluarkan akhirat dari hatimu, jika anda ingin akhirat, keluarkan dunia dari hatimu. Jika anda hanya ingin Allah, keluarkan dunia dan akhirat serta segala hal selain Allah Azza wa-Jalla dari hatimu.

Sepanjang ada sebiji atom selain Allah di hatimu maka anda tidak pernah melihat dekatNya padamu dan kemesraan tak pernah terwujud padamu, ketentraman tak ada padamu. Sepanjang masih ada secuil dunia di hatimu, akhirat tak akan pernah tampak di sisimu, sepanjang akhirat masih ada sedikit saja di hatimu, Allah Azza-Wajalla tak pernah terlihat di hatimu. Cerdaslah, jangan mendatangi pintuNya kecuali dengan langkah yang benar. Karena Pengawas memandangmu.

Awas, engkau tertirai dari makhluk, bukan pada sang Khaliq, sungguh bagaimana anda menutupi diri dari makhluk, sekejap anda sudah lebur dengan mereka, anda mengambil pekerjaan dari saku baju dan rumahmu? Hai orang yang meninggalkan cermin yang retak, esok akan menelan apa yang menjadi milikmu, dan menjelaskan berita padamu. Hai pemakan racun, dalam sekejap tubuhmu akan digerogoti racun.
Memakan makanan haram, merupakan racun bagi jasad agamamu. Meninggalkan syukur atas nikmat merupakan racun bagi agamamu. Sebentar lagi Allah Azza wa-Jalla akan menyiksamu dengan kefakiran dan meminta-minta pada sesama makhluk, serta hilangnya rasa sayang mereka karena dicabut oleh Allah dari hati mereka.

Anda hai orang yang meninggalkan amal padahal ia tahu, sebentar lagi ilmu akan melupakanmu dan barokahnya sirna dari hatimu. Hai orang bodoh kalau anda mengetahui dan mengenalNya, maka anda pun akan tahu siksaanNya. Berbaiklah dalam adab anda besertaNya dan makhlukNya. Sedikitlah bicara, kecuali yang perlu saja.

Sebagian orang saleh berkisah, “Ada seorang pemuda meminta-minta, lalu kukatakan padanya, “Seandainya anda bekerja, pasti anda lebih senang..”. Lalu pemuda itu malah tersiksa karena selama enam bulan terhalang dari sholat malam.

Anak-anak sekalian…Terhadap apa yang perlu, kerjakan, dan jangan melakukan yang tidak perlu. Keluarkan nafsumu dari hatimu, maka kebaikan dating padamu. Nafsu itu kotoran yang mengeruhi hati. Ketika sudah keluar akan dating kejernihan tanpa kekeruhan, dan anda telah benar-benar berubh. Allah azza wa-Jalla berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah apa yang ada dalam kaum sehingga mereka merubah apa yang ada pada nafsunya.”
(Ar-Ra’d, 11)

Wahai manusia, wahai orang mukallaf, wahai orang yang berakal, dengarkan Kalam Allah Ta’ala dan kabarNya, karena Dialah sebenar-benar perkataan. Rubahlah apa yang ada dalam dirimu demi Dia, hal-hal yang dibenciNya, hingga dating apa yang kalian cintai. Jalan begitu luas.

Hai generasi zamanku, bangkitlah dan tegaklah. Berbuatlah dan jangan alpa sepanjang ada tali dari ujung dan pangkal di tanganmu. Mohonlah pertolongan kepadaNya apa yang baik bagi kalian, naiklah pada nafsumu, jika tidak engkau akan dikendalikannya, karena nafsu selalu mengarah pada keburukan di dunia, dan memberi penyesalan di akhirat.

Larilah kalian dari orang yang membuatmu sibuk dan lupa pada Allah ta’ala seperti larinya dirimu dari binatang buas. Berbuatlah untukNya, dan siapa yang berbuat untukNya akan mendapatkan laba, siapa yang mencintaiNya Dia mencintainya pula. Siapa yang menghendakiNya, Dia menghendakinya pula. Siapa yang mendekat kepadaNya, Dia mendekat pula, siapa yang mengenalNya, Dia mengenal pula dirinya.
Dengarkan nasehatku, terimalah ucapanku, karena tak ada di muka bumi ini yang bicara pada manusia spontan seperti aku. Aku menginginkan mereka, bukan untuk diriku, tetapi demi mereka pula. Jika anda ingin akhirat, aku carikan akhirat bagi kalian.
Setiap kalimat yang aku ucapkan tak ada yang kuinginkan kecuali hanya allah Azza wa-Jalla. Aku sungguh tidak butuh dunia dan akhirat dan apa yang ada di dalam keduanya, Dia mengetahui kebenaranku karena Dia Maha Mengetahui yang tersembunyi.

Kemarilah, kemari! Akulah argumentator, akulah pemilik daerah dan wilayah negeri semacamnya. Hai orang munafiq, anda mengigau dengan igauanmu, sudahlah! Berapa kali anda katakan “Aku”, lalu siapa sebenarnya anda? Celakalah kalian ini, anda hanya melihat selain Allah Azza wa-Jalla, sembari mengatakan aku lebih senang dengan selain Dia. Sementara di lain pihak kau katakan, “Aku bahagia dan gembira bersamaNya…” bahkan anda katakan bahwa dirimu adalah orang yang ridlo bersamaNya, namun semua itu lebih merupakan kontradiksi dalam dirimu. Anda katakan dirimu sabar, tetapi anda sudah riuh gelisah ketika ada peristiwa yang menimpamu, dan membuatmu malah ingkar.

Tak ada yang perlu dikatakan lagi, sampai daging-dagingmu jadi bangkai karena banyaknya dosa-dosamu dan penyakit dalam daging, hingga tak terasa lagi adanya guntingan-guntingan bencana dan cobaan, hingga seluruh dirimu sunyi bersama Allah Ta’ala, hatimu kosong Dari dunia dan akhirat, tanpa bersandar pada keduanya dan apa yang ada di dalamnya, sementara wujudmu menjalankan perintah dan menjauhi larangan, maka Allah akan menemuimu, tindakanNya menggerakkan dirimu dan mendiamkanmu, anda dalam kesirnaan berserta DiriNya. Tahap atau maqom tak akan pernah bisa kokoh padamu kecuali seperti maqom tersebut.

Allah Azza wa-jalla tidak menuntut rupa hambaNya, tetapi hanya menuntut makna hatinya. Yaitu bertauhid dan ikhlasnya, hilangnya cinta dunia dan akhirat dari hatinya, seluruh apa pun terlepas dari dirinya. Jika sampai tahap ini, Allah mencintaiNya, mendekatkan padaNya, dan meninggikan derajat dibanding lainnya.

“Wahai Yang Maha Satu, kesendirianku hanya bagiMu, bersihkanlah jiwaku dari makhluk dan kami senantiasa berusaha ikhlas kepadaMu, luruskanlah pengakuan kami dengan bukti keutamaanMu dan rahmatMu. Perbaikilah hati kami dan mudahkanlah urusan kami. Jadikan kesenangan mesra denganMu, dan hindarkan kami dari selain diriMu. Jadikan hasrat kami, hanya satu hasrat saja, yaitu hasrat bersamaMu, dekat denganMu dunia dan akhirat kami. Oh Tuhan, berikanlah kebajikan kepada kami di dunia dan di akhirat pula kebajikan, dan lindungilah kami dari siksa neraka.”

Gelora Rindu


Syeikh Abul Qosim Al-Qusyairy
“Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu pasti datang. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.s. Al-Ankabut: 5)

Atha’ bin as-Sa’ib menuturkan bahwa ayahnya menceritakan kepadanya, “Suatu ketika Ammar bin Yasir mengimami kami shalat dan dia mempercepatnya. Aku berkata, Anda tergesa-gesa dalam mengimami shalat, wahai Abul Yaqzan.’ Dia menjawab,
‘Hal itu tidak ada salahnya, karena aku memanjatkan kepada Allah sebuah doa yang pernah kudengar dari Rasulullah Saw’, Ketika hendak beranjak, salah seorang jamaah mengikutinya dan bertanya kepadanya tentang doa yang dibacanya itu.

Dia pun mengulanginya, ‘Ya Allah, dengan ilmu­-Mu yang ghaib dan dengan kekuasaan-Mu atas semua makhluk, hidupkanlah aku jika Engkau tahu bahwa hidup itu membawa kebaikan untukku, dan matikanlah aku jika Engkau tahu bahwa mati itu membawa kebaikan untukku. Ya Allah aku meminta kepada-Mu agar aku takut kepada-Mu dalam semua perkara, baik yang nyata maupun yang ghaib. Aku memohon kepada-Mu ungkapan yang benar ketika aku senang maupun ketika aku marah. Aku mohon kepada-Mu kesederhanaan dalam kekayaan maupun kemiskinan. Aku mohon kepada-Mu kesenangan yang abadi, dan kesejukan jiwa yang tak terputus. Aku mohon kepada-Mu keridhaan dengan apa yang telah ditentukan. Dan aku mohon kepada-Mu kehidupan yang sejuk sesudah mati. Aku memohon agar bisa melihat Wajah-Mu yang Mulia, dan kerinduan untuk bertemu dengan-Mu tanpa bahaya yang mengancam, atau menjadi korban fitnah yang menyesatkan.

Ya Allah, hiasilah kami dengan keindahan iman. Ya Alah, jadikanlah kami sebagai pemberi petunjuk maupun penerima petunjuk’.”
Rindu adalah keadaan gairah hati yang berharap untuk berjumpa dengan Sang Kekasih. Kadar rindu tergantung besar volume cinta. Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq membedakan antara rindu dan hasrat yang bergolak, katanya, “Rindu ditentramkan oleh perjumpaan dan memandang. Sedangkan hasrat yang bergolak tidak sirna karena pertemuan.”
Mengenai konteks ini para Sufi bersyair:
Mata tak pernah berpaling ketika memandang-Nya,
Sehingga-kembali kepada-Nya, penuh gelora.

An-Nashr Abadzy menyatakan, “Semua orang mempunyai tahap kerinduan. Namun tidak semuanya mengalami tahap gelora, dan siapa yang memasuki gelora itu, justru akan linglung, sehingga ia tidak dipandang lagi pengaruh atau kesan dan keteguhan.”

Diceritakan bahwa Ahmad bin Hamid al-Aswad datang kepada Abdullah ibnul Mubarak dan berkata kepadanya, “Aku bermimpi engkau akan meninggal setahun lagi. Barangkali engkau harus bersiap-­siap untuk keluar dari dunia.” Abdullah ibnul Mubarak menjawab, “Engkau memberiku waktu yang lama, aku hidup sampai setahun penuh! Padahal aku selalu menyukai syair yang kudengar dari Abu Ali ats-Tsaqafy:
Wahai yang tercekam rindu karena perpisahan panjang
Bersabarlah, siapa tahu esok engkau bertemu SangKekasih.

Abu Utsman menuturkan, “Tanda rindu adalah mencintai kematian dengan hati yang ringan.”
Yahya bin Mu’adz menyatakan, “Tanda rindu adalah membebaskan tubuh dari hawa nafsu.”
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menuturkan, “Pada suatu hari Daud as. pergi sendirian ke padang pasir, kemudian Allah Swt. menurunkan wahyu kepadanya, ‘Wahai Daud, Aku tidak memandangmu sebagai orang yang sendirian!’ Daud menjawab, ‘Tuhanku, aku terpengaruh oleh kerinduan dalam hatiku untuk bertemu dengan-Mu, lantas terhalang antara diriku untuk bergaul dengan sesama manusia.’

Maka Allah Swt berfirman: “Kembalilah kepada mereka. Sebab bila engkau mendatangi­-Ku bersama seorang hamba yang lari dari tuannya, Aku tetapkan dirimu di Lauh Mahfudz sebagai seorang arif yang bijak’.”

Diceritakan, ada seorang wanita tua yang didatangi oleh pemuda yang termasuk kerabatnya. Keluarga lainnya merasa gembira, namun wanita itu justru menangis tersedu. Ia ditanya, ‘Apa yang engkau tangisi?” Wanita itu menjawab, “Aku teringat kedatangan pemuda itu, jika kelak di hari kedatangan kita kepada Allah Swt.”

Ketika Ahmad bin Atha’ ditanya tentang rindu, dia menjawab, “Jiwa yang terbakar, qalbu yang berkobar, dan jantung yang berkeping-keping.”
Pada kesempatan lain dia ditanya, “Manakah yang lebih utama, rindu ataukah cinta?” Ibnu Atha’ menjawab, “Cinta, karena rindu terlahir dari cinta.”
Salah seorang Sufi menyatakan, “Rindu adalah kobaran dari jiwa, dan apinya menjilat-jilat ketika berpisah. Bila pertemuan tiba, api itu jadi padam. Bila yang dominan pada rahasia batinnya adalah penyaksian sang kekasih, kerinduan tak melintas lagi.”

Seorang Sufi ditanya, “Apakah Anda pernah mengalami kerinduan?” Dia menjawab, “Tidak Rindu hanya bagi pecinta yang tak bersama kekasihnya. Sedangkan Kekasih sebenarnya, senantiasa hadir.”
Saya mendengar Syeikh Abul Ali ad-Daqqaq memberi komentar atas firman Allah Swt, “... dan aku bersegera kepadamu, wahai Tuhanku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku).” (Q.s. Thaha: 84). Arti ayat ini, ‘Aku bersegera kepada-Mu karena rindu kepada-Mu,”namun disamar­kan melalui kata ridha.

Ad-Daqqaq juga berkata, “Salah satu tanda rindu adalah harapan pada kematian dalazn hamparan ampunan yang sejahtera. Begitulah Nabi Yusuf as. Ketika dilemparkan ke dalam sumur, beliau tidak berkata, ‘Biarkanlah aku mati saja!’ Ketika dimasukkan ke dalam penjara, beliau juga tidak mengatakan, ‘Biarkanlah aku mati saja!’ Tetapi ketika orangtuanya datang kepadanya dan semua saudaranya bersujud kepadanya, beliau berkata, ‘Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam.’ (Q.s. Yusuf 101).”

Mengenai hal ini para Sufi bersyair:
Kami dalam puncak kegembiraan, Namun tak bisa sempurna, kecuali dengan kalian
Cacat yang ada pada kami, wahai orang-orang yang kucintai, Engkau semua dighaibkan sedang kami telah hadir.
Mereka juga bersyair:
Siapakah yang memeriahkan pesta raya,
Padahal aku sungguh berduka, Kegembiraan telah penuh bagiku
bila kekasih-kekasihku tiba.

Abu Abdullah bin Khafif mengatakan, “Rindu adalah hembusan qalbu yang muncul karena pesona, kecintaan untuk bertemu dan rasa ingin berdekatan.”
Abu Yazid al-Bisthamy berkata, “Allah Swt. mempunyai hamba­-hamba tertentu, jika Dia menutup tirai bagi mereka, maka mereka akan memohon agar dikeluarkan dari surga sebagaimana para penghuni neraka minta dikeluarkan dari neraka.”

Al-Husain at-Anshary berkata, “Aku bermimpi bahwa hari Kiamat telah tiba. Kulihat ada seseorang yang berdiri di bawah Arasy.
Allah Swt. lalu bertanya, ‘Wahai para malaikat-Ku, siapakah orang ini?’ Mereka menjawab, ‘Engkau lebih Maha Mengetahui.’
Maka Allah Swt. pun berfirman, ‘Inilah Ma’ruf al-Karkhy. Dia mabuk karena mencintai-Ku; dan tak akan sadar kecuali berjumpa dengan-Ku.’

Riwayat lain mengatakan, ‘Inilah Ma’ruf al-Karkhy. Dia meninggal­kan dunia dalam keadaan rindu kepada Allah. Maka Allah lalu memperkenankannya menatap Wajah-Nya’.”

Faris menegaskan, “Batas para perindu disinari dengan cahaya Allah Swt. Manakala gairah kerinduan mereka membara, cahaya itu mene­rangi langit dan bumi, dan Allah Swt. menunjukkan kepada malaikat­-malaikat-Nya, seraya berfirman, ‘Mereka adalah perindu-perindu-Ku, Aku bersaksi pada kalian bahwa Aku pun sesungguhnya lebih rindu kepada mereka’.”

Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq pernah menjelaskan mengenai sabda Nabi Saw, ‘Aku memohon kepada-Mu agar diberi rindu untuk berjumpa dengan-Mu.”

Komentar Abu Ali, “Rindu itu terdiri dari seratus bagian. Nabi memiliki Sembilan puluh sembilan bagian, dan yang satu bagian dibagi-bagi di kalangan ummat manusia.”

Abu Ali juga menginginkan yang satu bagian itu, karena beliau cemburu jika satu bagian rindu diberikan kepada orang lain.”
Dikatakan, “Kerinduan orang-orang muqarrabun lebih sempurna dibanding kerinduan mereka yang terhijab dari kehadiran­Nya.”
Demikianlah dikatakan penyair:
Seburuk kerinduan suatu ketika
bila tenda-tenda saling mendekat.

Dikatakan juga, “Para perindu saling merasakan manisnya kematian, ketika menjemputnya, semata karena jiwa pertemuan telah terbuka melebihi manisnya penyaksian.”

As-Sary menyatakan, “Rindu adalah maqam teragung bagi seorang ‘arif manakala telah terwujud di dalamnya. Manakala dia mencapai kerinduan, dia menjadi lupa akan segala sesuatu yang menjauhkan dari yang dirindukannya.”
Abu Utsman bin Sa’id
al-Hiry berkomentar mengenai firman Allah Swt,
“Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu pasti datang. “ (Q.s. Al-Ankabut: 5).
“Ayat ini sebagai penentram bagi para perindu. Tafsirnya: Aku tahu bahwa rindu kalian kepada-Ku begitu kuat. Aku telah menetapkan satu waktu bagi kalian untuk berjumpa dengan-Ku. Kalian semua akan segera datang kepada Yang kalian rindukan’.”
Dikatakan bahwa Allah Swt. mewahyukan kepada Nabi Daud as, “Katakanlah kepada para pemuda Bani Israil, ‘Mengapa kalian menaruh kepedulian selain kepada-Ku, sedangkan Aku merindukanmu? Dusta macam apa ini’?”

Allah Swt. juga menurunkan wahyu kepada Daud as, “Jika saja mereka yang telah berpaling dari-Ku mengetahui bagaimana Aku telah menunggu mereka, melimpahkan kasih sayang kepada mereka, dan kerinduan-Ku agar mereka meninggalkan kemaksiatan terhadap-Ku, pasti mereka mati semua karena rindu mereka, dan sendi-sendi mereka remuk karena cinta kepada-Ku. Wahai Daud, inilah Kehendak-Ku terhadap mereka yang telah berpaling dari-Ku, lalu bagaimana Kemauan-Ku terhadap mereka yang menghadap kepada-Ku?”
Dikatakan bahwa dalam kitab Taurat tertulis, “Kami sangat merin­dukan kalian semua, namun kalian tidak saling membalas rindu; Kami tanamkan rasa takut dalam dirimu, tapi kalian sendiri tidak merasa takut. Dan Kami memberi ratapan kepada kalian, sayangnya, kalian semua tidak pernah meratap.”

Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menuturkan, “Suatu ketika Syu’aib menangis hingga matanya buta. Allah Swt. mengembalikan penglihat­annya.

Dia menangis lagi sampai buta kembali, dan Allah Swt. mengembalikan lagi penglihatannya. Kemudian dia menangis sampai buta, lantas Allah Swt. mewahyukan,
‘Jika engkau menangis karena surga, maku Aku pun memperkenankannya. Jika engkau menangis karena neraka, maka Aku pun telah menjadikanmu selamat darinya.’
Syu’aib menjawab, `Bukan itu. Aku menangis karena rindu kepada­Mu.’
Lalu Allah berfirman padanya,’Karena itu Aku menunjuk Nabi­-Ku dan Kalimat-Ku untuk melayanimu selama sepuluh tahun’.”
Dikatakan, “Barangsiapa rindu kepada Allah Swt, maka segala sesuatu merindukannya.”

Dan dalam hadist disebutkan, “Surga merindukan tiga orang:
Ali, Ammar dan Salman.”
Malik bin Dinar mengatakan, “Aku membaca dalam Taurat begini, ‘Kami bangkitkan rindu dalam dirimu, tetapi kamu sekalian tidak rindu kepada Kami.

Kami mainkan seruling untukmu, tetapi engkau tidak menari :”
Al Junayd ditanya, “Apa yang membuat seorang pencinta menangis ketika bertemu dengan Kekasihnya?” Dia menjawab,
“Itu hanya karena kegembiraannya pada Sang Kekasih, dan kepesonaan karena kedahsyatan rindu kepada-Nya.”

Jangan Percaya Pada Daya Kekuatanmu


Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany-Hari Jum’at pagi, 21 Jumadil Akhir 545 H di Pesantrennya.

Laksanakan perintah dan jauhi larangan. Bersabarlah dengan cobaan-cobaan dan lakukanlah ibadah-ibadah sunnah. Anda jika demikian bisa disebut sebagai orang yang sadar, seorang pengamal, pencari taufiq dari Tuhanmu Azza wa-Jalla dengan sepenuh keseriusanmu. Meninggalkan pemaksaan hadir dalam di pintu amal, namun memandang bahwa amal adalah sesuatu yang diperuntukkan bagi anda.

Mohonlah padaNya dan hinakan diri anda di hadapan Dia agar Allah Ta’ala menyediakan sebab-sebab yang mendorong taat anda kepadaNya. Karena apabila Allah menghendaki dirimu untuk melaksanakan perintahNya, Allah Azza wa-Jalla menyiapkan padamu bagiNya, dan Dia benar-benar memerintahkan dirimu untuk bergegas dari dirimu, lalu menghadapkan pada taufiqNya kepadamu dari sisiNya, Perintah itu sifatnya lahiriyah, (syariatnya, pent) sedangkan taufiq adalah bathiniyahnya (hakikatnya).

Mencegah kemaksiatan itu bersifat dzohir, sedangkan batinnya adalah menjaga hati dari maksiat. Maka dengan penjagaan jiwa dan perlindungannya anda berpegang teguh, melalui penjagaanNya anda meninggalkan maksiat, dan dengan kekuatanNya anda sabar.
Hadirlah dihadapanku dengan akal dan keteguhan, niat dan tekad, dengan membuang kecurigaan padaku serta husnudzon padaku. Anda akan meraih manfaat dengan menyerap makna-maknanya.

Hai orang yang masih ada kecurigaan padaku, besok jadi jelas benar, bahwa semua yang ada padaku tidak ada kepentingan sedikit pun dariku, dimana hatimu muncul berbagai dugaan yang rumit.
Seluruh beban dunia ada di atas kepalaku, dan seluruh beban di akhirat ada di hatiku. Sedangkan beban Allah Azza wa-Jalla ada di Sirri ku. Apakah saya punya kepentingan untuk menolong diriku?
Siapa yang baik akan maju ke hadapanku dan kepalanya merunduk penuh dengan Hamdalah (Alhamdulillah Azza wa-Jalla). Sungguh saya tidak minta pertolongan siapa pun kecuali pada Allah azza waJalla.
Jadilah kalian semua orang yang cerdas dan beradablah kepada kaum sufi, karena mereka adalah polisi keluarga, negeri dan para hamba. Karena merekalah bumi ini terjaga, jika bukan karena mereka, sungguh bumi penuh dengan riya’ kalian, penuh dengan kemunafikan dan kemusyrikan kalian. Hai orang-orang munafiq, hai para musuh Allah Azza wa-Jalla, dan musuh RasulNya, wahai kayu kering bagi api neraka!
“Ya Allah terimalah taubatku dan taubat mereka. Ya Allah, sadarkan diriku dan sadarkan mereka, kasihanilah diriku dan mereka, kosongkan hati kami dan jasad mereka hanya untukMu.
Jika toh tidak demikian, maka jasad untuk keluarga dalam urusan dunia, jiwa untuk akhirat, hati dan rahasia hati hanya bagiMu…Amin.”
Anak-anak sekalian….Tak satu pun yang datang kepadamu dan
kau akan sendiri, tak satu pun yang datang padamu dan engkau harus hadir sendiri, dengan memasuki gerbang amalmu hingga Allah menganugerahkan amaliyah padamu untuk membangun dirimu, dan pertolongan itu….Anda adalah tempat-tempat anugerah, sedangkan pertolongan Allah Ta’ala diberikan kepadamu, dan Allah Azza wa-Jalla lah Sang Pemilik Amal. Allah benar-benar memerintahkanmu untuk bergegas meraighnya menuju taat padaNya, dan pertolongannya dari Allah Ta’ala.

Celaka kalian, jika kalian telah mengikat dirimu dengan rasa takut dari sesama makhluk disertai harapan pada mereka. Lepaskanlah ikatan itu dari kedua kakimu, lalu kamu bangkit menuju khidmah pada Tuhanmu Azza wa-Jalla, sampai jadi tenteram di hadapanNya. Zuhudlah dari dunia, wanita-wanitanya, syahwatnya dan semua ayang ada di dalamnya. Jika ada sesuatu yang muncul berupa dunia, maka ia datang kepadamu bukan karena perintahmu, bukan karena pencarianmu, hingga di sisi Allah Azza wa-Jalla anda disebut sebagai orang yang zuhud. Allah memandangmu dengan pandangan kemuliaan, maka bagian duniamu pun tak pernah sunyi. Namun, sepanjang engkau pasrah diri pada dayamu dan kekuatanmu, kekuatanmu dan apa yang menjadi milikmu, maka tak akan meraih sesuatu dariNya sedikit pun.
Sebagian Sufi mengatakan, “Sepanjang dalam kantong baju ada sesuatu, maka tak akan dapatkan dari yang tersembunyi.”

Ya Allah kami memohon perlindungan kepadaMu dari pasrah diri pada sebab akibat dunia, dan berteguh padanya disertai ambisi, hawa nafsu dan kebiasaan-kebiasaan. Kami mohon dari segala kejahatan dari seluruh siatuasi dan kondisi.
Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebajikan dunia dan kebajikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka.

Kaya, Mulia dan Kuat


Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany -Pagi hari di Madrasahnya, tanggal 19 Rajab 545 H.
Dari Nabi saw : beliau bersabda:
"Siapa yang senang menjadi manusia paling mulia, hendaknya bertaqwa kepada Allah. Dan siapa yang senang menjadi manusia paling kuat, hendaknya bertawakkal kepada Allah. Dan siapa yang senang menjadi manusia paling kaya hendaknya apa yang ada di tangan Allah lebih dipercaya ketimbang apa yang ada di tangannya. (Hr. Al-Hakim di Al-Mustadrak).

Artinya siapa yang ingin kemuliaan dunia dan akhirat hendaknya bertaqwa kepada Allah Azza wa-Jalla:

"Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian adalah yang paling bertaqwa." (Al-Hujurat: 13)

Kemuliaan ada pada ketaqwaan seseorang, sedangkan kehinaan ada dalam maksiatnya. Siapa yang ingin kuat dalam agama Allah Azza wa Jalla hendaknya ia bertawakkal kepada Allah Azza wa Jalla, karena tawakal itu membenarkan hati, menguatkan, membersihkan, menunjukan dan menampakkan keajaiban Illahi. Karena itu jangan berserah diri pada uangmu, dinarmu, dan usahamu. Justru itu bisa melemahkan dirimu, karenanya tawakal-lah kepada Allah Azza wa Jalla, karena Allah Ta’ala menguatkanmu, menolongmu dan mengasihimu serta membukakanmu tanpa terduga disamping mengokohkan hatimu.

Jangan peduli dengan datangnya dunia atau perginya dunia dari sisimu. Jangan peduli pula dengan penerimaan (dukungan) atau penolakan makhluk padamu, maka pada saat itulah anda menjadi manusia terkuat.

Bila anda berpegang pada harta, jabatan, keluarga dan nusahamu, maka sama dengan anda menantang murka Allah azza wa Jalla, karena semua itu akan sirna. Disamping tipudaya dibalik semua itu, dimana Allah swt tidak senang ada yang lain selain Allah di hatimu.

Siapa yang ingin kaya dunia akhirat hendaknya betaqwa kepada Allah Azza wa Jalla, bukan takut pada yang lain. Hendaknya ia bersimpuh di pintuNya, malu bersimpung di pintu selain pintuNya. Seharusnya ia pejamkan mata hatinya untuk memandang selain Dia Azza wa Jalla, namun bukan mata kepalanya.

Bagaimana anda percaya dengan apa yang ada di tangan anda, sedangkan semua itu akan sirna? Sementara anda malah tidak percaya pada apa yang di Tangan allah Azza wa Jalla yang tak pernah sirna? Semua ini karena kebodohan anda pada Allah Ta’ala, lalu beralih ke yang lainNya. Percayamu pada Allah membuatmu cukup, dan percayamu pada selainNya membuatmu fakir.

Wahai orang yang yang meninggalkan ketaqwaan, anda telah diharamkan mendapatkan kemuliaan dunia akhirat.

Wahai orang yang tawakal kepada makhluk dan usaha, anda telah terhalang dari kekuatan dan kemuliaan bersama Allah Azza wa-Jalla dunia akhirat.

Wahai orang yang percaya pada milik kuasanya, anda telah terhalang meraih kaya raya dunia akhirat bersama Allah Azza wa Jalla.

Anak-anak sekalian, jika anda menjadi orang yang bertaqwa, bertawakal dan percaya teguh pada Allah Azza wa Jalla hendaknya anda sabar. Karena sabar itu dasar setiap kebajikan. Bila niatmu benar dalam sabar, maka sabarmu hanya demi wajah Ilahi Azza wa Jalla, maka anda akan dapat balasan berupa cintaNya dalam hatimu, DekatNya padamu dunia akhirat.

Sabar itu berarti berserasi dengan ketentuan dan takdirNya yang telah mendahului pengetahuanmu, dimana tak seorang pun dari makhlukNya bisa menghapus takdir itu.

Hal demikian akan tertanam dalam diri mukmin yang yaqin. Maka sabar atas takdirNya itu memberi kemerdekaan, bukan keterdesakan.

Sabar di awalnya merupakan keterhimpitan, namun langkah berikutnya adalah kebebasan. Bagaimana anda mengaku beriman tetapi anda tidak bersabar? Bagaimana anda mengaku ma’rifat tetapi anda tidak ridlo? Iman dan ma’rifat bukan sekadar pengakuan.

Tidak bisa disebut beriman dan ma’rifat sampai anda memandang gerbangNya, membiarkan celaan dan sabar atas lingkar takdir dan pijakan manfaat dan derita, yang menginjak hatimu, bukan pikiran dan inderawimu, sementara anda tetap di tempat, seperti terbius, jasad tanpa ruh.

Perkara ini diperlukan ketenangan, tanpa gerakan, tersembunyi tanpa harus menghilang dari massa, dimana qalbu, sirr, batin, dan makna anda tidak ada di tengah mereka. Sungguh sudah banyak apa yang saya bicarakan, dan sungguh betapa sedikit yang kalian amalkan. Sudah panjang lebar saya uraikan tetapi anda tak pernah faham. Sudah banyak yang kuberikan, tetapi tidak pernah kalian ambil. Sudah banyak nasehatku tetapi anda tidak mengambil pelajaran.

Betapa keras hatimu betapa bodohnya kamu pada Allah Azza wa Jalla. Jika anda tahu dan beriman pada Pertemuan dengan Allah Azza wa Jalla, dan jika anda ingat mati serta apa yang ada dibalik kematian, kenapa anda masih berlaku demikian? Bukankah anda telah menyaksikan kematian ayah dan ibumu dan keluargamu? Telah menyaksikan kematian raja-rajamu? Bukankah itu telah menjadi peringatan dan nasehat bagimu dan mengendalikan nafsumu, disbanding upayamu berburu dunia dan cinta atas tetapnya dunia? Kernapa hatimu tidak cemburu, lalu kalian keluarkan dunia dan makhluk dari hatimu?
Padahal Allah Azza wa-Jalla telah berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak merubah apa yang ada pada kaum hingga mereka merubah apa yang ada dalam diri mereka."

Anda sedang bicara tetapi anda tidak melakukannya. Banyak yang sudah melakukan tetapi mereka tidak ikhlas.

Cerdaslah dirimu, jangan bikin su’ul adab pada Allah Azza wa Jalla. Kokohkan dirimu, wujudkan hakikatmu, kembalilah kepadaNya dan tafakurlah. Apa yang ada padamu di dunia ini tak ada manfaatnya di akhirat. Karena anda sendiri pelit pada diri sendiri, padahal jika anda dermawan pada jiwa sendiri, pasti anda sukses meraih manfaat akhirat. Sementara anda malah sibuk dengan sesuatu sirna, dan anda kehilangan yang kekal.

Karena itu jangan sampai anda disibukkan dengan harta, isteri-isteri dan anak-anak, karena dalam waktu dekat kalian terhalang dengan mereka.

Janganlah anda sibuk sekali dengan memburu dunia, sibuk mencari kehormatan dari makhluk, karena keduanya sama sekali tidak berarti di mata Allah Azza wa Jalla. Hatimu justru najis dengan kemusyrikan, penuh dengan keraguan kepada Allah Azza wa Jalla, penuh prasangka padaNya dalam perilaku jiwamu. Ketika Allah mengetahui dirimu, Allah marah padamu, dan anda dilempar jauh dari hati orang-orang yang saleh.

Sebagian Sufi – semoga Allah melimpahkan rahmatNya – ada yang tidak pernah keluar rumah, kecuali dengan mata terpejam, yang dituntun oleh anaknya. Ketika ditanya kenapa demikian? "Sampai aku tidak pertemu dengan orang yang kafir pada Allah Azza wa Jalla…".

Suatu hari ia keluar rumah dengan mata yang dicelak, lantas ia bias melihat, malah ia pingsan. Betapa dahsyatnya kecemburuannya Allah Azza wa Jalla, bagaimana seseorang bisa menyembah selain Allah Ta’ala dan musyrik? Bagaimana seseorang memakan nikmatNya sementara ia juga kufur padaNya? Anda sendiri juga tidak sadar bagaimana anda berpesta dengan orang kafir dan duduk bersama mereka, sedang dalam hatimu ada iman tapi tak merasakan cemburunya Allah Azza wa Jalla.

Kalian mesti taubat, mohon ampun, dan malu kepadaNya. Lepaslah pakaian yang tak tau malu di hadapanNya, jauhilah keharaman dunia, kesyubhatannya, lalu jauhilah hal-hal yang dibolehkan ketika anda meraihnya dengan penuh ambisi hawa nafsu dan syahwat. Karena sesuatu yang anda raih dengan penuh nafsu dan syahwat, akan memalingkan dirimu dari Allah Azza wa-Jalla.

Nabi saw, bersabda: "Dunia itu penjara bagi orang beriman" (Hr. Muslim)

Bagaimana orang bertasbih bahagia dalam penjaranya? Ia tidak gembira. Hanya romannya bahagia, hatinya duka. Secara lahiriyah bahagia, sementara hatinya serasa terpotong-potong, kesendiriannya, dan akna yang dihayatinya serasa berubah jadi maksiat dibalik bajunya, dimana luka-luka hatinya tertutup oleh potongan senyum bajunya. Barulah Allah Azza wa Jalla dan para Malaikatnya bangga. Masing-masing mereka diberi isyarat dengan jari-jari pasda mereka, para ksatria di negeri agama Allah Azza wa Jalla dan di negeri rahasiaNya, sepanjang mereka bersabar bersamaNya, dan menahan kegetiran takdirNya, sampai mereka dicintai Allah Azza wa Jalla. Sebagaimana firmanNya: "Dan Allah mencintai orang-orang yang bersabar." (Ali Imron: 146)

Bahwa Allah azza wa Jalla membericobaan padamu semata karena cintaNya kepadamu. Sepanjang engkau melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya, maka Allah semakin cinta kepadamu, dan sepanjang engkau sabar atas cobaanNya, semakin anda dekat denganNya.

Sebagian Sufi – semoga Allah merahmatinya – meriwayatkan, "Allah swt, tidak mau menyiksa kekasihNya, tetapi Allah memberi ujian dan memberikan kesabaran padanya."

Nabi saw, bersabda: "Seakan-akan dunia itu tidak ada, dan seakan-akan akhirat itu yang senantiasa ada." (Hr. Ali Al-Qaari, dan al-Ajluny).

Kemarilah, wahai pemburu dunia, wahai pecinta dunia, aku akan uraikan cacat-cacat dunia, dan kuberikan petunjuk Jalan Allah Azza wa Jalla, aku temukan dengan mereka yang yang hanya berhasrat menuju Wajah Allah Azza wa Jalla, karena saat ini kalian sedang stress. Dengarkan apa yang aku katakana padamu dan amalkan, serta ikhlaslah dalam mengamalkannya.

Bila kalian mengamalkan ilmuku dan kalian mati ketika mengamalkannya, maka Allah swt, akan meninggikan derajatmu sampai tingkat luhur (illiyyin), lantas kalian akan melihat disana, akar ucapanku dari sana, lantas kalian memanggilku dan menyalamiku dan kalian mewujudkan hakikat apa yang aku isyaratkan padaNya.

Kaumku…!Tinggalkan semua yang menimbulkan depresimu, tinggalkan rasa nyaman yang bathil, sibukkan dirimu dengan dzikrullah Azza wa Jalla. Bicaralah yang bermanfaat dan diamlah jika itu menyengsarakan jiwamu. Jika anda ingin bicara sesuai kehendakmu, maka fikirkan apa yang bakal kau katakana,. Lalu berniatlah yang tulus, baru biacara.

Di sinilah berlaku ungkapan, "Ucapan si bodoh di depan hatinya, sedangkan ucapan si alim yang berakal ada di belakang hatinya."

Diamlah dirimu. Bila Allah Azza wa-Jalla menghendakimu bicara, maka Dia akan membuka ucapanmu. Jika Allah menghendaki suatu hal, Allah juga menyiapkanmu bagiNya. KesertaanNya padamu membuatmu bisu total, jika sudah demikian ucapan akan datang sendiri dariNya manakala Dia menghendakinya. Bahkan bisa saja, kebisuan itu terus menerus sampai mati. Maka berlakulah sabda Nabi saw,: "Siapa yang kenal Allah, lisannya kelu." (Hr. Al-Khathib al-Baghdady).

Lisan lahiriyahnya kelu, sedangkan batinnya kelu dari segala hal selain Allah swt. Maka segalanya berserasi tanpa kontra, karena mata hatinya buta dari selain memandangNya. Batinnya terkoyak dan masalahnya terhanguskan, hartanya tercerai berai, lalu ia keluar dari eksistensinya, keluar dari dunia dan akhiratnya, bahkan nama dan tandanya pun tiada.

Allah swt. Berfirman:"Kemudian jika Allah berkehendak, maka Dia membakitkan kembali." (‘Abasa: 22)

Allah Azza wa Jalla mewujudkan setelah tiada, diciptakan kembali sebagai makhluk, yang dihanguskan oleh hasta fana’, lalu dikembalikan pada Hasta Baqa’ agar meraih Pertemuan, kemudian dikembalikan agar mengajak makhluk dari kefakiran menuju KemahacukupanNya. Kecukupan adalah cukup bersama Allah Azza wa Jalla dari aktivitas hatinya dengan mendekatkan diri padaNya Azza wa Jalla. Orang yang fakir dengan dirinya tak mampu meraih itu semua.

Siapa yang ingin cukup kaya, tinggalkan dunia dan akhirat serta seisinya, tinggalkan segala hal selain Allah Azza wa Jalla secara total. Maka secara bertahap semuanya akan keluar dari hatinya, sesuatu yang ada dan sangat hina ini. Sesuatu yang remeh di dunia ini (harta dan seluruh sisinya) hanyalah piranti bekal saja. Maka raihlah bekal itu dalam rangka berjalan menuju kepadaNya. Maka Allah akan memberimu nikmat-nikmat yang dihidangkan olehNya. Anda juga meraih petunjuk, pengetahuan, dan hidayah dari CahayaNya.

Ya Allah tunjukkan hatiku kepadaMu.
Ya Tuhan kami berikanlah kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat, dan jagalah kami dari siksa neraka.